Wednesday, November 27, 2002

SAJAK W. HARYANTO

JANUARI, DARI SEBUAH PERAIRAN


Bapak duduk di atas kursi. Di atas pasir,
dan sepuluh tahun lalu aku mendaki bukit
bukit buatanku sendiri, kupanggil langit
tanpa ucapan, aku ingin terbang
beriring camar dan bersatu bersama angin
menenggelamkan pulau-pulau.
Dari ketinggian garis-garis pantai menjadi abadi.

Seperti puisi, Januari mengetuk rumah-rumah
dari balik kabut, sebuah kebebasan menciptakan
bayang-bayangnya dari jejak kepergian laut lepas,
dan dalam tidurku: bapak adalah patung-patung
kenyataan yang kolot, berperahu
tanpa dayung di tangannya.

Sepuluh tahun lalu, bapak ingin menjadi daratan,
tapi bahasa ombak kehilangan makna,
karena kenangan hanya cahaya yang luluh
dan berawarna pucat, dari semua laut kesia-siaan.

Bapak duduk di depan jendela, menghitung
kerang-karang di hatinya, perjalanan telah runtuh,
dan bapak menjadi asing dengan asal-usul.
Hingga tak ada yang tersisa,
sejarah pengetahuannya terbang dalam patahan
patahan di cakrawala sepuluh tahun lalu,
jasadnya kini adalah sobekan layar-layar kusut,
berkibaran pada tiang-tiang keheningan.

Betapa aku terseret mimpi menuju kedalaman,
sebuah pusaran waktu yang menggila,
dari semua pengetahuan bapak yang dikutuk.
Malam nyaris membuatku mabuk,
dan keheningan menjulurkan tangan-tanganya
ke dalam air tempat semua asal-usul
terucapkan pertama kali, sepuluh tahun lalu.

1995-1998




PASETRAN GONDOMAYIT

Membca penggalan kalimatmu, seperti mula
Sebuah keterasingan, pulau-pulau dalam gerimis
Lihat bagaimana aku terdampar tanpa sampan
Dan mataku menyerupai kuil-kuil ratusan tahun.

Akan kucipta hutan-hutan kenyataan ini
Dari mimpi ular, ketika kerikil melepaskan
Bau murungnya ke udara, seperti mata arca
Yang menyadari dirinya sendiri.

Cuaca waktu terasa gelap, berhimpun dan hitam
Seperti kata-katamu, seperti gairah yang merayapi
Pantai yang hidup. Dan sosok bayangan nelayan
Terlihat bertumpuk oleh cahaya keramik bulan.

Dalam perumpamaan ini, aku terhempas ke puncak
Puncak ombak. Seperti makna yang mengekal
Di akhir kalimatmu: buih-buih yang perak, isyarat
Isyarat kelam yang bangkit dari laut, dan jalan setapak.

Pantai, telah membangkitkan seluruh kelepak ingatanku
Tapi sarang suaramu tak mampu menjebak burung
Burung laut, ketika malam memberi mukim bagi
Daging pengetahuanku. Mataku terbuka diatas karang,

Menyadari beku angin; memanggilmu lewat isyaratnya
Yang tak tersiar pada selimut pasir. Irama jantungku
Kehilangan aroma-langsat-pagi; dan radang-luka-mataku
Tumbuh di arus pasang, dimana aku tersandar tentang pulau

Pulau ziarah waktu kini: ketika tubuhku hidup
Oleh imajinasi kalimatmu.

1999




IRONI RUMI

ini tanahmu yang paling lapang:
bening sungai, pucuk-pucuk kesedihannya terpahat
di gigi pisau,
dimana mimpimu jadi padas seperti kerikil,
ajal yang tak sempurna;
kau bayangkan potret perempuan putih,
dari tanah lapangamu:
air mata, kilau cahayanya, sunyi membunuh
lekukan jalan dan sisa hasrat;
dunia ini seperti kaleng-kaleng kosong,
ketika kenangan jadi sederhana,
di jalan landai dalam tidurmu
sosokmu kulihat
tengah memanggul kayu, menyadari makna
yang hanyut di sungai
senyummu lebih menyala dan menjuntaikan
lengan-lengannya;
telusuri lagi ingatanmu, undakan jalan yang menukik;
masa lalu adalah akhir
dari sungai ketika senja; hanyutkan perasaanmu
pada hening
kelak kau menjelma ikan-ikan mati, tapi tak kutahu
arah tatapanmu,
seperti sifat dari kedalaman air, lidah percakapan kita
tak hendak usai di dingin malam;
di atas perahu kita menjadi tua oleh peradaban;
tatapan kita tak menyadari
apa yang tersirat dari penggalan sajak,
dimana hening mulut hujan
membentuk keajaibannya, seperti musim
yang terkubur oleh pelapukannya.

1999