Sunday, October 27, 2002

SAJAK MASHURI

KELAHIRAN

Aku lahir dari biji mata ibu bapa
sebuah cinta jingga
dengan sulur-sulur yang bergelayut
tangan-tangan abadi
yang merengkuh bulan
dan membawanya ke peraduan

Bila hujan turun, hawa tanah meruap, berbantun
mengabarkan sebuah musim
bahwa benih harus meniti buih
pantai-pantai ungu
dengan ombak mendayu
nyanyikan lagu-lagu
pernikahan
dalam langgam kasmaran

Sebuah cahaya akan luruh
berganti rupa
kata-kata demikian bertuah
dan senyap telah menjelma rindu
anak-anak
untuk mengulang adegan
melewati garba untuk kesekian

gelap

Lalu pelangi memberi arti
ketika rintik mulai berhenti
matahari melukisnya dengan gemulai
menawarkan kencana warna
berarak-arak
hingga tubuhku menjelma arak
dan mabuk

Dan sebuah retina di buritan
seperti cawan
menghikmati kehadiranku
seperti seorang sufi
dengan bunga-bunga bakung
dan sapu tangan dari kulit jagung
Tapi rambutku,
hanya sebuah ruang tak bertulang
ia bukan diriku
Bila ada yang menyebutku agung,
dalam keutuhan semesta
kumaknai sebagai kerapuhan dan papa

Seperti juga rahsia,
aku menemukan pertemuan ibu bapa
juga rahasia
dan kulayari seberkas cahaya
dari sebuah imaji-imaji,
khayalan yang berlari
di antara gema ilalang dan angin
yang hilang

diam

Lalu kukenali kelopak mata
dari telinga
Tujuh indera yang bertukar rupa
dan bianglala yang membias
di antara bukit-bukit
mengirimkan sebuah kabar
bahwa ibu bapa telah mendengar
gaung anak-anaknya

Kuhitung kembali kelahiranku
dan kutemukan
diriku adalah sisa-sisa
dari tanda, semacam jejak
berabad-abad lampau
dan di setiap jendela kusematkan beribu nama
untuk mengenali diriku
yang berserpih batu,
burung-burung
dan lembah yang mengurung

Ibu bapa,
dengarlah hujan yang kesekian
dalam derap itu, kuabadikan nama-namaku
seperti kelahiranku
yang pertama

Surabaya, 2 September 2002